Penghargaan Muhammadiyah Award 2023

Penghargaan Guru Berprestasi Tingkat Jawa Tengah dalam Muhammadiyah Award Tegal, 4 Maret 2023

Finalis Lomba Ruang Guru

Acara yang sangat spektakuler pertama kali disiarkan di Trans TV dalam perlombaan Ruang Guru Tingkat Nasional.

Penghargaan Guru Aktif di Masa Pandemi COVID

Pemberian penghargaan oleh Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta atas perolehan sertifikat seminar dengan 150 buah selama pandemi

Workshop AI For Education

Pemanfaatan Artificial Intelligence (Ai) dalam Pembuatan Media Pembelajaran dan Perangkat Ajar di SMK Muhammadiyah 4 Surakarta, Kamis 21 Desember 2023

Kamis, 20 Agustus 2026

Jangan Tunggu Menjadi Ibu: Memutus Rantai Stunting dari Bangku Sekolah

 Oleh: Nurul Fitria, S.Si., M.Pd.

Guru IPA SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta


Di sekolah, kita terbiasa mengukur banyak hal. Tinggi badan dengan meteran, massa tubuh dengan timbangan, kemampuan belajar melalui asesmen, bahkan kehadiran dihitung sampai satuan hari. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih sulit diukur: seberapa besar kebiasaan yang dibangun seorang remaja hari ini akan menentukan kesehatan keluarganya bertahun-tahun kemudian.

Ketika mendengar kata stunting, bayangan kita biasanya segera menuju bayi, balita, posyandu, atau ibu hamil. Seolah-olah pembicaraan tentang stunting baru relevan ketika seorang perempuan mengandung atau seorang bayi lahir.

Padahal, mencegah stunting seharusnya dimulai jauh sebelumnya.

Di bangku-bangku sekolah hari ini sedang duduk remaja yang kelak akan menjadi ayah dan ibu. Cara mereka memahami tubuh, memilih makanan, menjaga kesehatan, dan mengambil keputusan hari ini merupakan bagian dari investasi kesehatan generasi berikutnya.

Sebagai guru IPA, saya melihat inilah ruang yang sering belum kita maksimalkan: sekolah bukan hanya tempat anak mengetahui apa itu zat gizi, darah, pertumbuhan, atau sistem pencernaan. Sekolah dapat menjadi tempat pengetahuan kesehatan berubah menjadi kebiasaan hidup.

Angka Turun, Pekerjaan Belum Selesai

Indonesia sebenarnya mempunyai kabar baik. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024.

Untuk pertama kalinya, angkanya berada di bawah 20 persen.

Capaian tersebut patut diapresiasi. Namun, 19,8 persen bukanlah angka yang membuat kita boleh berhenti. Pemerintah masih menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14,2 persen pada 2029.

Di balik persentase itu terdapat anak-anak dengan masa depan yang harus dijaga. Karena stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan. Stunting berkaitan dengan gangguan pertumbuhan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kecukupan gizi, kesehatan ibu, infeksi, pola pengasuhan, kebersihan, dan lingkungan.

Artinya, mencegah stunting tidak cukup dilakukan oleh tenaga kesehatan setelah seorang anak dilahirkan. Pencegahannya membutuhkan perjalanan panjang yang melibatkan keluarga, masyarakat, layanan kesehatan dan menurut saya, juga sekolah.

Jangan Tunggu Remaja Putri Menjadi Ibu

Salah satu pintu masuknya adalah kesehatan remaja, terutama pencegahan anemia pada remaja putri.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dibahas Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan pada 2026 menunjukkan 54,8 persen remaja putri belum pernah mendapatkan Tablet Tambah Darah (TTD). Lebih menggelitik lagi, 51,4 persen remaja putri yang tidak mengonsumsi TTD menyatakan tidak mengetahui manfaatnya.

Ada pesan besar di balik data tersebut.

Masalah kesehatan tidak selalu terjadi karena fasilitas tidak tersedia. Kadang-kadang masalah muncul karena informasi belum berubah menjadi pemahaman.

Tablet Tambah Darah mungkin hanya terlihat sebagai tablet kecil yang dibagikan kepada siswi. Namun, ketika seorang remaja memahami bahwa zat besi dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin yang membawa oksigen ke seluruh tubuh, tindakannya menjadi berbeda. Ia tidak lagi mengonsumsi TTD sekadar karena diminta guru atau petugas kesehatan, melainkan karena memahami mengapa tubuhnya membutuhkannya.

Kementerian Kesehatan menganjurkan remaja putri mengonsumsi satu Tablet Tambah Darah setiap minggu sebagai salah satu upaya pencegahan anemia.

Menariknya, data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa akses TTD bagi remaja putri sangat bergantung pada sekolah. Ini berarti sekolah sesungguhnya memiliki posisi yang sangat strategis. Bukan untuk mengambil alih pekerjaan dokter, bidan, puskesmas, atau ahli gizi, tetapi untuk memastikan pesan kesehatan benar-benar dipahami oleh remaja.

Di sinilah pendidikan mempunyai kekuatan.

Ketika IPA Keluar dari Buku Pelajaran

Bayangkan jika materi IPA tidak berhenti ketika ulangan selesai.

Ketika belajar sistem peredaran darah, murid tidak hanya menghafalkan fungsi eritrosit dan hemoglobin, tetapi juga memahami mengapa anemia perlu dicegah.

Ketika mempelajari zat makanan, murid tidak sekadar mampu menyebutkan fungsi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Mereka diajak melihat isi piring makan sendiri: adakah sumber protein? Cukupkah makanan yang beragam? Dari mana tubuh memperoleh zat besi?

Ketika belajar pengukuran, murid dapat memahami bahwa data tinggi dan massa tubuh merupakan informasi kesehatan yang perlu dibaca dengan benar, bukan bahan untuk mengejek bentuk tubuh temannya.

Ketika melihat kemasan minuman dan makanan, mereka dapat belajar membaca informasi nilai gizi, bukan hanya tergoda warna kemasan dan iklan.

Pada titik itu, IPA tidak lagi sekadar kumpulan istilah di buku.

IPA menjadi bekal mengambil keputusan.

Bagi saya, pembelajaran seperti inilah yang penting. Sebab seorang anak mungkin lupa definisi yang pernah ditulisnya saat ujian, tetapi kebiasaan membaca label makanan, memilih sumber protein, minum air putih, menjaga kebersihan, atau memahami pentingnya zat besi dapat dibawanya jauh lebih lama.

Dari Kelas untuk Generasi Sehat

Sekolah tidak membutuhkan program mahal untuk ikut berkontribusi. Saya membayangkan sebuah gerakan sederhana: “Dari Kelas untuk Generasi Sehat.”

Gerakan itu dapat dimulai melalui hal-hal kecil.

Pertama, literasi gizi. Murid diajak membandingkan kandungan beberapa makanan yang benar-benar mereka temui sehari-hari. Bukan sekadar menghafal tabel, tetapi belajar membuat pilihan.

Kedua, edukasi anemia yang bermakna. Program Tablet Tambah Darah bagi remaja putri tidak berhenti pada pembagian tablet. Guru dan tenaga kesehatan dapat membantu menjelaskan alasan ilmiah di baliknya, cara konsumsinya, serta pentingnya pola makan bergizi.

Ketiga, membawa percakapan kesehatan ke rumah. Murid dapat diberi tantangan sederhana untuk mendiskusikan menu keluarga, sumber protein, kebiasaan sarapan, kebersihan, atau kesehatan bersama orang tua.

Keempat, menghubungkan sekolah dengan layanan kesehatan. Sekolah, puskesmas, keluarga, dan masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan.

Hal sederhana tersebut mungkin tidak langsung mengubah statistik nasional. Namun, perubahan besar sering kali dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan berulang kali.

Stunting Bukan “Urusan Perempuan”

Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.

Membicarakan pencegahan stunting sejak remaja bukan berarti menyerahkan tanggung jawab kepada anak perempuan.

Remaja laki-laki juga perlu memahami gizi, anemia, kesehatan reproduksi, sanitasi, pola hidup sehat, serta tanggung jawab membangun keluarga yang sehat. Kelak, kesehatan anak bukan hanya tanggung jawab ibu.

Ayah juga menentukan makanan di rumah. Ayah ikut menentukan keputusan kesehatan keluarga. Ayah ikut menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Karena itu, meskipun judul tulisan ini berbunyi “Jangan Tunggu Menjadi Ibu”, pesan yang sama berlaku untuk anak laki-laki:

Jangan tunggu menjadi ayah untuk mulai peduli pada kesehatan generasi berikutnya.

Kemerdekaan untuk Tumbuh

Pada usia kemerdekaan Indonesia yang ke-81, barangkali makna merdeka juga layak kita lihat dari sisi yang paling mendasar: kesempatan setiap anak Indonesia untuk tumbuh dengan baik.

Merdeka untuk memperoleh gizi yang cukup.

Merdeka untuk tumbuh dan belajar secara optimal.

Merdeka dari masalah kesehatan yang sebenarnya dapat dicegah.

Dan merdeka untuk mempunyai masa depan yang tidak dibatasi oleh kekurangan yang seharusnya bisa kita antisipasi sejak dini.

Tema “Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat” pada akhirnya bukan sekadar slogan. Indonesia yang kuat dibangun oleh manusia yang sehat. Sementara manusia yang sehat tidak tercipta dalam satu malam, apalagi hanya melalui satu program.

Ia dibangun dari pengetahuan.

Dari kebiasaan.

Dari keluarga.

Dari layanan kesehatan.

Dan juga dari pendidikan.

Karena itu, jangan menunggu seorang perempuan menjadi ibu untuk mulai berbicara tentang zat besi dan gizi.

Jangan menunggu seorang laki-laki menjadi ayah untuk mengajarkan tanggung jawab kesehatan keluarga.

Jangan menunggu seorang bayi lahir untuk mulai membicarakan pencegahan stunting.

Mulailah ketika mereka masih remaja.

Mulailah ketika rasa ingin tahu mereka masih besar dan kebiasaan hidup mereka sedang terbentuk.

Mulailah dari bangku sekolah.

Sebab di ruang-ruang kelas hari ini sedang tumbuh generasi yang kelak menentukan seperti apa keluarga Indonesia pada masa depan.

Jika dari sekolah mereka belajar memahami tubuhnya, menjaga kesehatannya, memilih makanan dengan lebih sadar, lalu membawa pengetahuan itu pulang kepada keluarganya, sesungguhnya kita sedang melakukan sesuatu yang lebih besar daripada menyelesaikan satu bab pelajaran.

Kita sedang menyiapkan generasi sehat untuk Indonesia yang kuat.


Sumber Data

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.

  2. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, “Anemia pada Remaja Putri: Tantangan Pencegahan melalui Konsumsi Tablet Tambah Darah”, 16 Maret 2026.

  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – Ayo Sehat: Pencegahan Stunting.

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI

Sabtu, 31 Mei 2025

Simulasi Rangkaian RLC dengan Software Multisim






Halaman eksperimen lengkap dapat diakses melalui tautan berikut: 👉 Klik di sini untuk membuka halaman eksperimen

Minggu, 28 Januari 2024

SOAL TTS FISIKA Kelas IX Angkatan 9'14

 Silahkan anak anak untuk mengerjakan soal dibawah ini


Waktu Pengerjaan: 30:00 menit!

Jumat, 26 Januari 2024

Workshop AI For Education

 


"Pemanfaatan Artificial Intelligence (Ai) dalam Pembuatan Media Pembelajaran dan Perangkat Ajar"

Trainer : Nurul Fitria, S.Si
Kamis, 21 Desember 2023
SMK Muhammadiyah 4 Surakarta


Bulan desember identik dengan musim liburan dan yang ga kalah pentingnya bulan ini yang ditunggu guru, siswa untuk merehatkan sejenak aktivitas dengan keluarga. Akan tetapi, berbeda dengan Kepala Sekolah, Guru dan Karyawan di SMK Muhammadiyah 4 Surakarta, Mereka memanfaatkan liburan untuk menambah peningkatan mutu pendidikan khususnya dibidang Media Ajar dan Persiapan Perangkat Ajar Semester Genap di Tahun 2023/2024. Output yang dihasilkan luar biasa, dari modul ajar berbasis AI sampai ke Desain Grafis dalam mengelola Gsite. Tetap semangat Bapak Ibu SMK Muhammadiyah 4 Surakarta, semoga sukses dan diberi kemudahan selalu dalam mewujudkan pendidikan yang lebih baik

Assesmen Formatif IPA Kelas VII

 1. Untuk mengerjakan TRY IN IPA Khusus Kelas VII setiap bulan, silahkan untuk masuk di https://bit.ly/ASIPA714

2. Sedangkan TRY IN IPA Kelas IX menggunakan Aplikasi https://www.pk-learning.com/utama.php

Penghargaan Muhammadiyah Education Awards 2023

Alhamdulillah bersyukur sekali diberi kesempatan mengikuti kompetisi Muhammadiyah Education Award atau MEA yang dilaksanakan di Tegal, 4 Maret 2023. Prestasi selama 3 tahun saya kumpulkan dan terkumpul 32 prestasi terdiri dari  internasional jumlah 1, provinsi jumlah 3, dan nasional jumlah 28. Terimakasih atas doa dari seluruh pihak yang mendukung dan menyemangati untuk terus berlomba lomba dan menjadi semangat anak anak khususnya SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta untuk terus menciptakan prestasi, sehingga semboyan "TIADA HARI TANPA PRESTASI" akan selalu menggema. Tahun 2023/2024 ini saya masih diamanahkan sebagai koordinato lomba. semoga tahun ini akan terus meningkat dan mencapai 1000 prestasi, BISMILLAH. berikut rekapan Prestasi SMP Muh PK


GAME SOLAR SYSTEM

 Ayuk anak anak berlatih Persiapan Assesmen Formatif IPA untuk Solar System Grade VII


Jangan Tunggu Menjadi Ibu: Memutus Rantai Stunting dari Bangku Sekolah

  Oleh: Nurul Fitria, S.Si., M.Pd. Guru IPA SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta Di sekolah, kita terbiasa mengukur banyak h...